20
Mar
09

Diare Pada Anak, Bagaimana Menanganinya?

Berawal dari Edelweiss yang kena muntah2 udah ampir seminggu ini, maka saya mau share aja bacaan yang saya dapet dari idai ini, yang ngebantu saya dalam tetap berpikir rasional dan sudah saya terapkan dalam hal berusaha menjaga supaya Edelweiss tidak terkena dehidrasi. Guideline ini sangat bagus untuk para orang tua supaya tidak panik dan tetap berkepala dingin dan rasional. Selamat membaca..

— oOo —

DIARE merupakan salah satu penyakit paling sering menyerang anak di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Diperkirakan, anak berumur dibawah lima tahun mengalami 203 episode diare per tahunnya dan empat juta anak meninggal di seluruh dunia akibat diare dan malnutrisi. Kematian akibat diare umumnya disebabkan dehidrasi (kehilangan cairan). Lebih kurang 10% episode diare disertai dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit tubuh secara berlebihan. Bayi dan anak kecil lebih mudah mengalami dehidrasi dibanding anak yang lebih besar.

Karena itu, penanganan awal sangat penting pada anak dengan diare adalah mencegah dan mengatasi keadaan dehidrasi. Pemberian cairan pengganti (cairan rehidrasi) baik yang diberikan secara oral (diminumkan) maupun parenteral (melalui infus) telah berhasil menurunkan angka kematian akibat dehidrasi pada ribuan anak yang menderita diare.

Oralit merupakan cairan rehidrasi oral (CRO) yang mengandung elektrolit (Na, K, Cl, HCO3) dan glukosa telah terbukti dapat mengganti cairan saluran secara efektif dan memberikan dehidrasi. Saat ini telah banyak cairan rehidrasi oral di pasaran dengan berbagai nama.

Pengamatan klinis merupakan langkah awal yang penting dalam serangkaian penanganan diare pada anak, terutama dalam hal penentuan derajat dehidrasi. Kita mengenal 3 status dehidrasi pada seorang anak yang mengalami diare, yaitu (1) tanpa dehidrasi ; (2) dehidrasi ringan sedang ; (3) dehidrasi berat. Tetapi cairan yang diberikan pun disesuaikan dengan derajat dehidrasi yang ada.

Pada keadaan tanpa dehidrasi, secara klinis anak masih terlihat aktif dan buang air kecil masih berlangsung normal. Pada keadaan ini tidak perlu membatasi pemberian makanan dan minuman termasuk susu formula. ASI diteruskan pemberiannya.

Untuk mencegah dehidrasi dapat diberikan CRO sebanyak 5-10cc/kg BB setiap buang air besar dengan tinja cair. Pada bayi, oralit dapat diberikan dengan cara berselang-selang dengan cairan yang tidak mengandung kadar Na seperti air putih atau ASI.

Rehidrasi dengan menggunakan clear fluid (air putih, cairan rumah tangga, sari buah, dsb) akan memberikan hasil tidak optimal. Karena, kandungan natriumnya kurang. Sebaiknya, pemberian jus buah dan coal dapat memperbesar keadaan diare, karena mengandung osmolaritas tinggi di samping kadar Na yang rendah.

Dehidrasi Ringan-Sedang

Pada keadaan dehidrasi ringan-sedang, anak terlihat gelisah, rewel, sangat haus, dan buang air kecil mulai berkurang. Mata agak cekung, tidak ada air mata, turgor (kekenyalan kulit) menurun, dan mulut kering. Rehidrasi dilaksanakan dengan memberikan CRO sebanyak 75ml/kg BB yang diberikan dalam 3-4jam.

Apabila telah tercapai rehidrasi dapat segera diberikan makan dan minum, ASI diteruskan, pemberian CRO rumatan (5-10ml/kg BB) setiap buang air besar cair. Minuman, seperti cola, gingerale, apple juice, dan minuman olahraga sports drink umumnya mengandung kadar Na yang rendah sehingga tidak dapat mengganti kehilangan elektrolit yang telah terjadi.

Makanan tidak perlu dibatasi, karena meneruskan pemberian makanan (early feeding) akan mempercepat penyembuhan. Bila disertai muntah, CRO dapat diberikan secara bertahap; 1 atau 2 sendok teh setiap 1 atau 2 menit dengan peningkatan jumlah sesuai dengan kemajuan daya terima anak. Tindakan ini perlu di bawah pengawasan, sehingga dapat dilaksanakan dalam suatu ruang observasi yang dikenal dengan Ruang Upaya Rehidrasi Oral atau Ruang Rawat Sehari.

Pada akhir jam ke 3-4, pasien dapat dipulangkan untuk mendapat terapi rumatannya di rumah, atau tetap diobservasi untuk mendapat terapi lebih lanjut bila dehidrasi masih berlangsung. Suatu hal yang paling penting sebelum memulangkan pasien adalah orangtua harus paham betul dalam menyiapkan dan memberikan CRO dengan benar. Seorang anak tidak boleh hanya diberikan CRO saja selama lebih dari 24 jam. Early feeding harus segera diberikan. Makanan sehari-hari dapat dicapai secara bertahap dalam 24 jam. Memuaskan anak yang menderita diare hanya akan memperpanjang durasi diarenya.

Dehidrasi Berat

Pada dehidrasi berat, selain tanda klinis pada dehidrasi ringan-sedang, juga terlihat kesadaran anak menurun, lemas, malas minum, mata sangat cekung, mulut sangat kering, pola napas yang sangat cepat dan dalam, denyut nadi cepat, dan kekenyalan kulit sangat menurun. Pada keadaan ini, anak harus segera dirawat untuk mendapat terapi rehidrasi parenteral (melalui infus).

Pemberian susu formula khusus pada bayi diare hanya pada kasus yang terindikasi. Pemberian susu yang mengandung rendah atau bebas laktosa hanya diberikan kepada anak yang secara klinis jelas memperlihatkan gejala intoleransi laktosa (tidak dapat mencerna laktosa yang terdapat di dalam susu).

Sebagian besar diare pada anak terutama pada bayi disebabkan oleh virus, oleh karena itu antibiotik pada bayi dengan diare hanya diberikan pada kasus tertentu saja. Pemberian obat antidine yang banyak beredar saat ini meskipun dari beberapa laporan memperlihatkan hasil yang baik dalam hal lama dan frekuensi diare. Tetapi, hal ini belum dimasukkan ke dalam rekomendasi penanganan diare pada anak. Secara singkat, pemahaman gejala dehidrasi dan penanganan yang benar merupakan kunci keberhasilan anak dengan terapi diare.

Pencegahan dan Pengobatan Diare pada Anak di Rumah

Diare masih merupakan masalah kesehatan nasional karena angka kejadian dan angka kematiannya yang masih tinggi. Balita di Indonesia rata-rata akan mengalami diare 2-3 kali per tahun. Dengan diperkenalkannya oralit, angka kematian akibat diare telah sangat menurun. Namun demikian, balita yang mengalami gizi kurang masih cukup tinggi, yang antara lain dapat merupakan akibat penyakit diare pada anak. Berikut akan dijelaskan secara ringkas mengenai pencegahan dan pengobatan diare di rumah.

Pola buang air besar pada anak

Pada umumnya, anak buang air besar sesering-seringnya 3 kali sehari dan sejarang-jarangnya sekali tiap 3 hari. Bentuk tinja tergantung pada kandungan air dalam tinja. Pada keadaan normal, tinja berbentuk seperti pisang. Dilihat dari kandungan airnya bentuk tinja bervariasi mulai dari “cair” (kadar airnya paling tinggi, biasanya terjadi pada diare akut), “lembek” (seperti bubur), “berbentuk” (tinja normal, seperti pisang) dan “keras” (kandungan air sedikit seperti pada keadaan sembelit). Pada bayi berusia 0-2 bulan, apalagi yang minum ASI, frekuensi buang air besarnya lebih sering lagi, yaitu bisa 8-10 kali sehari dengan tinja yang encer, berbuih dan berbau asam. Selama berat badan bayi meningkat normal, hal tersebut tidak tergolong diare, tetapi merupakan intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya perkembangan saluran cerna.

Warna tinja yang normal adalah kuning kehijauan, tetapi dapat bervariasi tergantung makanan yang dikonsumsi anak. Yang perlu diperhatikan adalah bila tinja berwarna merah (mungkin darah) atau hitam (mungkin darah lama/beku) atau putih seperti dempul (pada penyakit hati).

Kapan disebut diare ?

Anak dinyatakan menderita diare bila buang air besarnya “lebih encer” dan “lebih sering” dari biasanya. Tinja anak diare dapat mengandung lendir dan darah, tergantung pada penyebabnya. Gejala ikutan lainnya adalah demam dan muntah. Kadangkala gejala muntah dan demam mendahului gejala mencretnya.

Gejala yang timbul akibat penyakit diare

Karena terjadinya mencret dan muntah yang terus menerus, pada awalnya anak akan merasa haus karena telah terjadi dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) ringan. Bila tidak ditolong, dehidrasi bertambah berat dan timbullah gejala-gejala : anak tampak cengeng, gelisah, dan bisa tidak sadarkan diri pada dehidrasi berat. Mata tampak cekung, ubun-ubun cekung (pada bayi), bibir dan lidah kering, tidak tampak air mata walaupun menangis, turgor berkurang yaitu bila kulit perut dicubit tetap berkerut, nadi melemah sampai tidak teraba, tangan dan kaki teraba dingin, dan kencing berkurang. Pada keadaan dehidrasi berat nafas tampak sesak karena tubuh kekurangan zat basa (menderita asidosis). Bila terjadi kekurangan elektrolit dapat terjadi kejang.

Prinsip pengobatan diare

Penyakit diare dapat mengakibatkan kematian bila dehidrasi tidak diatasi dengan baik dan dapat mencetuskan gangguan pertumbuhan (kurang gizi) bila tidak diberikan terapi gizi yang adekuat. Sebagian besar diare pada anak akan sembuh sendiri (self limiting disease) asalkan dicegah terjadinya dehidrasi yang merupakan penyebab kematian. Oleh karena itu, prinsip pengobatan diare adalah :

  • Rehidrasi : mengganti cairan yang hilang, dapat melalui mulut (minum) maupun melalui infus (pada kasus dehidrasi berat)
  • Pemberian makanan yang adekuat : jangan memuasakan anak, pemberian makanan seperti yang diberikan sebelum sakit harus dilanjutkan, termasuk pemberian ASI. Pada diare yang ringan tidak diperlukan penggantian susu formula
  • Pemberian obat seminimal mungkin. Sebagian besar diare pada anak akan sembuh tanpa pemberian antibiotik dan antidiare. Bahkan pemberian antibiotik dapat menyebabkan diare kronik.

Pengobatan dimulai di rumah ?

Bila anak menderita diare dan belum menderita dehidrasi, segera berikan minum sebanyak 10 ml per kilogram berat badan setiap kali mencret agar cairan tubuh yang hilang bersama tinja dapat diganti untuk mencegah terjadinya dehidrasi, sehingga mencegah terjadinya kematian. Sebaiknya diberikan cairan oralit yang telah tersedia di pasaran saat ini seperti oralit 200ml, oralit 1 liter, Oralit-200 dan Pharolit-200 dan juga larutan oralit siap minum seperti Pedialyte dan Renalyte. Bila tidak tersedia, dapat pula digunakan larutan yang dapat dibuat di rumah seperti larutan garam gula atau larutan garam tajin (lihat Tabel 1).

Tabel 1. Cara membuat larutan garam-gula dan larutan garam-tajin

Larutan Garam-Gula : bahan terdiri dari 1 sendok teh gula pasir, seperempat sendok teh garam dapur dan 1 gelas (200 ml) air matang. Setelah diaduk rata pada sebuah gelas diperoleh larutan garam-gula yang siap digunakan.

Larutan Garam-Tajin : bahan terdiri dari 6 (enam) sendok makan munjung (100 gram) tepung beras, 1 (satu) sendok teh (5 gram) garam dapur, 2 (dua) liter air. Setelah dimasak hingga mendidih akan diperoleh larutan garam-tajin yang siap digunakan.

Bila telah terjadi dehidrasi, minumkanlah oralit 50-100 ml (tergantung berat ringannya dehidrasi) per kilogram berat badan dalam 3 jam untuk mengobati dehidrasi dan bila masih mencret oralit terus diberikan seperti di atas, yaitu 10 ml per kilogram berat badan setiap mencret (lihat Tabel 2).

Bagaimana mengetahui keadaan anak membaik dan tidak perlu dibawa ke dokter? Tentu saja dengan melihat adanya perbaikan dari gejala-gejala yang disebutkan di atas. Kesadaran anak membaik, rasa hausnya akan menghilang, mulut dan bibirnya mulai membasah, kencing banyak dan turgor kulit perutnya membaik.

Kapan dirujuk ke puskesmas atau dokter?

Anak dirujuk ke puskesmas atau dokter bila :

  • Muntah terus-menerus sehingga diperkirakan pemberian oralit tidak bermanfaat
  • Mencret yang hebat dan terus-menerus sehingga diperkirakan pemberian oralit kurang berhasil
  • Terdapat tanda-tanda dehidrasi (mata cekung, turgor kurang, tangan dan kaki dingin, tidak sadar).

Pencegahan diare

Diare umumnya ditularkan melalui 4 F, yaitu FOOD, FECES, FLY and FINGER. Oleh karena itu upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutus rantai penularan tersebut. Beberapa upaya yang mudah diterapkan adalah :

  • Penyiapan makanan yang higienis
  • Penyediaan air minum yang bersih
  • Kebersihan perorangan
  • Cuci tangan sebelum makan
  • Pemberian ASI ekslusif
  • Buang air besar pada tempatnya (WC, toilet)
  • Tempat buang sampah yang memadai
  • Berantas lalat agar tidak menghinggapi makanan
  • Lingkungan hidup yang sehat

Tabel 2. Pengobatan diare di rumah

Derajat dehidrasi

Jenis

cairan

Jumlah

cairan

Jadwal pemberian

Belum dehidrasi

Cairan rumah tangga atau oralit

10 ml per kg berat badan setiap kali mencret

24 jam

Dehidrasi ringan

Oralit

50 ml per kgbb

10 ml per kgbb tiap mencret

3 jam

24 jam

Dehidrasi sedang

Oralit

100 ml per kgbb

10 ml per kgbb tiap mencret

3 jam

24 jam

Dehidrasi berat

Segera dibawa ke Puskesmas atau RS karena anak perlu mendapat infus

Penutup

Diare pada anak dapat menyebabkan kematian dan gizi kurang. Kematian dapat dicegah dengan mencegah dan mengatasi dehidrasi dengan pemberian oralit. Gizi kurang dapat dicegah dengan pemberian makanan yang memadai selama berlangsungnya diare. Peran obat-obatan tidak begitu penting dalam menangani anak dengan diare. Pencegahan dan pengobatan diare harus dimulai dari rumah.

* sumber : idai.or.id


10 Responses to “Diare Pada Anak, Bagaimana Menanganinya?”


  1. 1 melza
    March 30, 2009 at 5:53 am

    ank sy sdh 2 minggu diare ringan(itu krn buang air nya hanya 2 kali sehari namun encer/cair),berat badannya turun drastis.sdh sy cb berikan oralit namun dia kurang suka,jd lebih banyak terbuang dari pada di minum.nafsu makannya pun berkurang..saya khawatir sekali.gimana cara menanganinya

  2. 2 edelwz
    March 31, 2009 at 3:12 am

    @ melza

    memang kalo anak kena diare/muntah, cepet sekali berat badannya akan berkurang. Kemaren waktu Edelweiss muntah2 juga keliatan banget langsung kurusan (padahal dasarnya dia dah langsing gitu, gak gemuk). Saya mau share aja, waktu Edelweiss kemaren, memang susah untuk ngasih dia pedialit, meskipun udah dipilih rasa permen, tetep dia gak mau. Memang wajar, kalo anak sedang sakit, pasti apapun juga dia gak mau makan/minum. Caranya, tetap telaten dalam menangani anak. Misalnya tetep kasih pedialit, bisa dengan sendok, walo sekali dikasi cuma bisa masuk 1-2sendok, itu gak masalah. Ulangi lagi 15menit kemudian. Begitu seterusnya, sehingga cairan tubuhnya tidak akan hilang. Kemudian saya buatkan bubur juga buat Edel, cara makannya juga sama, sedikit2 tapi sering, setiap 30menit sekali saya kasih, intinya… SABAR DAN TELATEN. Itu saja. Nanti juga setelah penyakitnya berlalu, napsu makannya jadi gila2an kok hehehe.. balas dendam mungkin ya.. sekarang Edelweiss udah gemukan lagi😀

    Kemudian jangan lupa untuk selalu memperhatikan kondisi anak. Apakah muncul tanda2 dehidrasi?? Di artikel ini sudah ada tanda2 dehidrasi, itu yang menjadi acuan saya dalam home treatment Edelweiss. Puji Tuhan memang tidak ada tanda2 dehidrasi yang muncul.

    Semoga cepat membaik ya kondisi anaknya😀

  3. 3 Nia Ariany
    November 6, 2009 at 1:51 pm

    S bungsu jg lg kena diare nih,.. Mksh artikel nya..

  4. December 30, 2009 at 3:10 am

    anak sy diare sudah hampir 10 (sepuluh) hari. BABnya bisa 6-7 kali sehari, tdk muntah dan tdk demam, msh aktif dan lincah walau kdng agak rewel. Makan,minum susu dan minum oralitnya jg mau. Tapi setiap habis makan dan minum yg banyak pasti akan keluar lagi, BABnya banyak dan agak cair. sy bw ke Dokter dikasih pedialit, guanistrep dan lakto B, dan dokter jg menyarankan untuk mengganti susu yang rendah laktosaanya, tapi sudah dua hari ini belum ada perubahan. yg sy mau tanyakan apa yg hrus sy lakukan sekarang supaya diarenya itu berhenti, karena bbnya sudah turun 2 kg, dan apakah memang perlu susunya itu diganti. trim’s

  5. 5 judy
    October 7, 2010 at 4:04 am

    terima kasih artikelnya ini sangat bagus sekali buat semua orang tua yang punya baby …
    saya harap forum ini terus ON
    MATUR NUWUN SEKALI LAGI ATAS INFO BISA BUAT LBH HATI2 LG NANGANI BABY

  6. 6 caroline andreas
    October 31, 2010 at 10:37 pm

    bunda edelwyz, terima kasih atas infonya, saya adalah seorang ibu baru dari putri saya yang masih berusia 20 bln. sudah 2 hari ini terkena diare. pada awalnya pagi2 sekali dia muntah2, saya kira karena keselek rambut or something dari kasur,makin siang sering muntah tiap kali makan atau minum susu(asi).siangnya dibawa ke dokter dan diberi antibiotik. besoknya tidak membawa kemajuan,jadi mencret2. muntahnya juga masih. tidak mw makan. diberi oralit tidak mau, muntah. kasusnya hampir serupa seperti bunda melza, setelah membaca artikel ini membuat saya sedikit tenang tapi tetap meningkatkan kewaspadaan. terima kasih bunda edel.

  7. 7 trijul_
    October 11, 2011 at 3:49 am

    apakah untuk anak usia 4 bulan pemberian oralit tidak ada efek sampingnya, mohon infonya???

  8. August 18, 2013 at 5:16 pm

    Berguna banget, Mbak. TFS ya.
    *lg pusing krn anak muntah2 dan ada diare sedikit*

  9. April 13, 2014 at 7:25 pm

    Asam Urat
    This is really interesting, You’re a very skilled blogger.

    I’ve joined your rsss feed and look forward to seeking more of your
    great post. Also, I have shared your website in my social networks!

  10. 10 alby
    June 26, 2015 at 6:29 am

    Anak saya usia 2th lbh 2 mnggu jenis klamin laki laki BB 11kg.anak saya hbs disapih sktr 2 mnggu lalu tetapi slsai di dapih ank sya sllu BAB itu sering skli bsa 1 hri lbh dri 3x itu trjdi smp skrng ank sya g mnum sufor dia mkn plus Asi saja.
    Mohon pnjlasan knpa ank sya ini.trimakasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Fashion Termurah dan Terlengkap. Mau cantik? Masuk ruang dandan dulu dong

Photobucket

Ngobrol Bareng Saya

Categories

March 2009
M T W T F S S
« Nov   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blog Stats

  • 851,052 hits
Lilypie Kids Birthday tickers
Lilypie Third Birthday tickers
Lilypie First Birthday tickers

Who’s Here?

Photobucket
Photobucket

%d bloggers like this: