28
Oct
08

Bolehkah Makanan Bayi Diberi Perasa?

Bolehkah Makanan Bayi Diberi Perasa?
Oleh: dr Handrawan Nadesul
____________ _________ _________ _________ _
Makanan bayi tentu saja tidak boleh disamakan dengan makanan orang dewasa. Selain saluran pencernaan bayi belum siap menerima segala jenis menu orang dewasa, susunan gigi-geligi, dan sejumlah organ
yang terkait dengan pengolahan (metabolisme) makanan yang dikonsumsi belum tentu sudah cukup matang untuk menerimanya. Termasuk segala jenis perasa dalam makanan. Masih bolehkah bayi menerimanya?

KALAU ditanya apakah boleh, jawabannya tentu saja sebaiknya tidak.
Lebih baik tidak menambahkan segala sesuatu sehingga menambah beban tubuh bayi, selain kemungkinan tidak menyehatkan.

Beban memikul asupan garam dapur (NaCl) yang melebihi kemampuan ginjal bayi yang belum kuat memikulnya. Fungsi ginjal bayi belum cukup matang untuk menyisihkan kelebihan mineral dalam garam dapur. Maka segala jenis menu dengan kandungan garam dapur, apalagi yang berlebihan, sebaiknya dijauhkan dari menu harian bayi.

Natrium sudah mencukupi dari bukan garam dapur. Tubuh memang membutuhkan mineral natrium yang dapat diperoleh dari garam dapur. Namun tak perlu mengonsumsi khusus garam dapur jika natrium yang
terkandung dalam bahan makanan alami sudah mencukupi. Hampir semua produk laut, secara alami sudah mengandung unsur natrium, tanpa perlu menambahkan garam dapur sekalipun. Maka semakin beragam menu bayi (setelah mulai diberikan nasi tim), semakin kecil kemungkinan tubuh bayi terancam kekurangan unsur mineral natriumnya. Betul, tubuh tidak boleh sampai kekurangan natrium yang melakukan perannya
pada otot dan jantung juga. Sama halnya seperti akibat yang ditimbulkan pasca diare, tubuh mengalami kekurangan unsur natrium yang ekstrim, sehingga bisa saja terjadi renjatan (syok). Maka esktra natrium dari larutan gula-garam atau oralit pada kasus diare memang suatu keharusan. Kekurangan natrium berpengaruh buruk pada tekanan darah juga. Namun kelebihan natrium dalam tubuh, sebagaimana terjadi pada budaya makan serba asin, sama tidak menyehatkannya.

Tubuh rata-rata orang modern, akibat budaya makan asin, cenderung kelebihan natrium dalam tubuhnya sehingga berisiko meninggikan tekanan darah. Darah tinggi orang dengan budaya makan asin, terjadi
akibat natrium dalam darah melebihi normal.

Membentuk bukan lidah asin

Lidah seseorang dibentuk sejak kecil. Jika dari bayi tidak dibiasakan mengonsumsi cita rasa asin (banyak takaran garam dapurnya), seterusnya lidah tidak terbiasa menerima rasa asin. Ambang asin lidah terbentuk lebih rendah, sehingga menolak dan merasa tidak nyaman menerima menu yang terlampau asin.

Sebaliknya apabila sejak bayi lidahnya sudah dibentuk cita rasa asin, menu yang dipilih akan cenderung lebih asin dari rata-rata menu normal. Keadaan begini yang dinilai tidak menyehatkan karena akan terbawa sampai sepanjang hayat. Membiasakan bayi cenderung menerima menu yang lebih asin, atau membubuhi garam dapur lebih banyak, akan melahirkan orang dewasa yang lidahnya menagih asin. Kebutuhan garam dapurnya mungkin tiga atau empat kali lipat lebih besar dari orang normal.

Normal, dalam budaya makan asin, tubuh menerima kelebihan garam dapur rata-rata lebih dari tiga kali lipatnya. Kelebihan garam ini yang harus tubuh buang lewat ginjal, selain harus memikul akibat
meningginya tekanan darah.

Orang yang berdomisili di pedalaman, suku Eskimo, Indian, Dayak, yang menu hariannya tanpa garam dapur, tidak ditemukan kasus-kasus darah tinggi. Demikian pula suku-suku berumur di atas seratus tahun
(centenarian) , menu hariannya sepi dari garam dapur. Dan itu yang sesungguhnya menyehatkan tubuh.

Waspadai camilan
Kita tahu hampir semua camilan dan jajanan cenderung membubuhi garam dapur yang melebihi kebutuhan tubuh. Sehari tubuh hanya membutuhkan natrium kurang dari 5 gram garam dapur. Kalau dihitung, asupan garam dapur rata-rata orang dengan budaya makan asin sekitar 15 Gram seharinya. Dan itu berasal dari hampir semua menu di luar rumah. Menu restoran, khususnya restoran China, aneka camilan, dan jajanan,
garam dapurnya cenderung melebihi kebutuhan tubuh.

Maka seberapa bisa, mengolah menu sendiri di rumah yang ditakar garam dapurnya. Pemerintah Singapura membatasi pemakaian garam dapur pada semua restorannya, sehingga memang cenderung lebih tawar
dibanding menu restoran di Indonesia. Dan cara menyehatkan itu yang menjadi program nasionalnya.

Kita tahu garam dapur dalam kecap, kendati namanya kecap manis, kandungan garam dapurnya juga melebihi kebutuhan tubuh. Padahal kebiasaan makan orang kita cenderung tiada hari tanpa kecap. Maka
dari itu, jangan mulai membiasakan bayi berkenalan dengan serba kecap kalau tidak mau nantinya terbiasa menyukai yang serba asin. Apalagi kecap asin. Sekadar saus tomat dan sambal botol pun sudah
lebih dari sekadar asin.

Garam sodium rendah
Ya, ada baiknya cita rasa asin, yang memang menambah gurih cita rasa makanan, bisa disiasati dengan membubuhi bukan garam dapur (NaCl), melainkan memilih jenis garam yang kadar natriun (sodium)-nya rendah saja (low sodium salt).

Gula pasir juga tidak menyehatkan
Ya, selain garam dapur, manis dari gula pasir tidak lebih menyehatkan daripada manis dari madu atau gula merah (gula jawa). Maka kalau pun perlu diberikan manis juga, biarkan manis itu berasal
dari bahan alami.

Air tebu sebagai bahan pembuat gula pasir memang pilihan yang menyehatkan. Namun ketika air tebu diolah dan dicampurkan bahan kimiawi untuk membentuk kristal gula pasir, itulah yang menjadikannya tidak menyehatkan lagi. Maka lebih baik memilih gula merah (dari enau, atau kelapa) yang proses pengolahannya tidak menambahkan bahan kimiawi apa pun, selain lebih baik memilih madu.

Soal kaldu, sebetulnya tidak mengapa kalau diberikan untuk bayi. Namun mitos hebatnya kaldu untuk bayi harus dihapus, oleh karena kandungan kaldu hanyalah didominasi oleh kandungan lemak. Lebih penting memberikan daging ayam, atau daging sapinya ketimbang hanya memberikan kaldu ayam, atau kaldu daging sapinya. Tidak juga cukup hanya memberi ceker ayam, yang juga karena mitos, anak kehilangan
kesempatan mendapat protein dari daging ayamnya. Ceker ayam hanya berisi urat dan lemak belaka, kecil saja proteinnya. Padahal yang bayi butuhkan justru protein pada dagingnya.


1 Response to “Bolehkah Makanan Bayi Diberi Perasa?”


  1. December 11, 2008 at 9:07 am

    bagus banget artikelnya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Fashion Termurah dan Terlengkap. Mau cantik? Masuk ruang dandan dulu dong

Photobucket

Ngobrol Bareng Saya

Categories

October 2008
M T W T F S S
« Aug   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Blog Stats

  • 851,059 hits
Lilypie Kids Birthday tickers
Lilypie Third Birthday tickers
Lilypie First Birthday tickers

Who’s Here?

Photobucket
Photobucket

%d bloggers like this: